Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Syarat bolehnya menggunakan dan mengamalkan hadits Dhoif


    
Perlu diketahui bahwa didalam kitab keutamaan umat Nabi Muhammad SAW, karangan Sayyid Muhammad bin alwi al maliki beliau mencantumkan jumlah hadits yang banyak, diantaranya berupa hadis shoheh, Hasan, diantara juga beliau menyebut hadis-hadis lain dari hadis doif dan macam-macam nya,

    Beliau mencantumkan beberapa hadis dhaif  karena bolehnya mengamalkan hadis hadis dhoif dengan syarat syarat yang telah disebutkan oleh para ulama ahli hadis,yang tertera didalam kitab ushul, sungguh beliau telah menyebutnya secara perinci di dalam kitabnya yang berjudul manhalul lathif. (1)

    Yang disebut di dalamnya, bahwa hadis dhoif ialah hadis yang lemah yang tidak bisa dijadikan dasar suatu hukum dan aqidah, disisi lain bolehnya mengamalkan hadis dhaif tentang amalan amalan di dalam masalah keutamaan keutamaan, yang berupa anjuran dan ancaman, dan menyebut manaqib, pendapat ini adalah pendapat yang mu’tamad menurut ulama ahli hadits.

     Dan jika tidak seperti itu pasti banyaknya masalah perbedaan pendapat para ulama ahli hadis, bersamaan dengan hal itu para ulama ahli hadis membolehkan mengamalkan hadis dhaif dengan ketentuan syarat-syarat sebagaimana berikut ini (2):

1. Hadis dhoif itu berupa fadhoilul ‘amal.
2. Hadis dhoif nya tidak boleh telalu parah,maka tidak boleh diamalkan   hadis dhoif itu dengan diriwayatkanyan oleh 1 orang yang berdusta atau orang telah tertuduh dengan kebohongan, atau oleh orang yang sangat parah fatalnya.
3. Hadisnya masih dalam kategori dalam dasar yang bisa di amalkan (adanya penguat dengan hadis yang lainya).
4. Tidak boleh diyakini ketika mengamalkan hadis dhoif akan adanya ketetapan hadisnya,akan tetapi diyakini sekedar berhati hati saja.

    Diantara ulama ulama yang membolehkan mengamalkan hadis dhaif dan menerimanya untuk fadhoilul‘amal seperti Imam An-nawawi didalam kitab (taqrib) Imam iroqi didalam kitabnya  (alfiyyah) ibn hajar hajar al asqholany di dalam kitab (syarah nukhobah) syaikh zakariya al anshory didalam kitab (syarah arbai’n) al‘allamah al-laknawy didalam risalahnya yang berjudul (al-ajwabah alfadhilah) yang sudah tersebar luas pembahasanya tentang hal itu, begitu pula ayahanda abuya al maliki, sayyid alwi bin abbas al-maliky beliau mengarang karangan khusus tentang hadis dhaif. 

    Sumber dan rujukan: 1. Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki, kitab Khosois Al-Ummat Al-Muhammadiyah (Indonesia: Ha’ah Sofwah tth),hlm. 6. 2. Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki, kitab Manhalul Lathif, (Indonesia: Ha’ah Sofwah tth),hlm 67.

Post a Comment for " Syarat bolehnya menggunakan dan mengamalkan hadits Dhoif "